Rabu, 21 November 2012

pembuatan media

BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar belakang
Untuk menelaah bakteri dan jamur di laboratorium, kita harus dapat menumbuhkan atau mengembangkan bakteri dan jamur tersebut. Adanya pembiakan bakteri dan jamur dimaksudkan untuk memudahkan pemeriksaan yang akan dilakukan di dalam laboratorium, sehingga jika sewaktu-waktu kita memerlukan bakteri dan jamur untuk suatu percobaan, maka bakteri dan jamur tersebut telah tersedia. Biakkan bakteri dan jamur tersebut dapat disimpan di dalam lemari es untuk waktu yang lama tanpa ada kerusakan.
Populasi mikroba di alam sekitar kita sangat besar dan kompleks. Ratusan spesies mikroba menghuni bagian tubuh kita, seperti mulut, saluran pencernaan dan kulit. Udara, tanah, dan air yang merupakan komponen alam sebagai tempat tinggal kita juga dihuni oleh beragam mikroorganisme. Campuran mikroba tersebut dapat dipisahkan dengan tehnik isolasi. Isolasi mikroba berarti memisahkan satu jenis mikroba dari biakan campuran menjadi satu biakan murni (populasi sel yang semuanya berasal dari satu sel induk).

B.   Tujuan
1.    Mempelajari sifat-sifat koloni pada media agar
2.    Memahami cara mengisolasi suatu mikroba untuk mendapatkan biakan murni
3.    Mempelajari sifat-sifat koloni jamur yang tumbuh pada media tauge agar dan mengidentifikasikan jenis jamur yang tumbuh
4.    Mempelajari cara mendapatkan biakan murni dari biakan campuran (memisahkan satu jenis mikroba)



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Untuk menumbuhkan mikroba dan mengembangbiakan mikroba, diperlukan suatu substrat yang disebut dengan media. Sedangkan media itu sendiri sebelum dipergunakan harus dalam keadaan steril, artinya tidak ditumbuhi oleh mikroba lain yang tidak diharapkan. Susunan bahan, baik bentuk bahan alami (seperti tauge, kentang, telur, daging, wortel, dan sebagainya) ataupun bahan buatan (berbentuk senyawa kimia, organik, ataupun anorganik) yang dipergunakan untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroba dinamakan media (Anonim2011: 9).
Media pertumbuhan mikroorganisme adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran zat-zat makanan atau nutrisi yang diperlukan oleh mikroorganisme untuk pertumbuhannya. Mikroorganisme memanfaatkan nutrisi di dalam media berupa molekul-molekul kecil yang dirakit untuk menyusun komponen sel. Dengan media, pertumbuhan dapat dilakukan dengan isolasi mikroorganisme menjadi kultur murni dan juga memanipulasi komposisi media pertumbuhannya. Bahan dasar adalah air (H2O) sebagai pelarut dari agar-agar (rumput laut) dimana agar-agar tersebut berfungsi sebagai pemadat media (Soni, Ahmad 2010: 8).
Medium dapat diklasifikasikan berdasar atas susunan kimia, konsistensi, dan fungsinya. Klasifikasi medium berdasarkan susunan kimianya, yakni, medium organik, yaitu medium yang tersusun dari bahan-bahan organik, medium anorganik, yaitu medium yang tersusun dari bahan-bahan anorganik, medium sintetik, yaitu medium yang sususan kimiawinya dapat diketahui dengan pasti, dan medium non-sintetik, yaitu medium yang susunan kimiawinya dapat diketahui dengan pasti (Anonima 2011: 9).
Pembiakan mikroba dalam laboratorium memerlukan medium yang berisi zat hara serta lingkungan pertumbuhan yang sesuai dengan mikroorganisme. Zat hara dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk pertumbuhan, sistesis sel, keperluan energi dalam metabolism, dan pergerakan. Lazimnya, medium biakan berisi air, sumber energi, zat hara sebagai sumber karbon, nitrogen, sulfur, phospat, oksigen, hidrogen, serta unsur-unsur sekelumit (trace element). Dalam bahan dasar, medium dapat pula ditambahkan faktor pertumbuhan berupa asam amino, vitamin, dan nukleotida (Waluyo 2007: 61).
Medium merupakan suatu bahan yang terdiri dari campuran nutrisi yang dipakai untuk menumbuhkan mikroba. Selain untuk menumbuhkan mikroba, medium dapat pula digunakan untuk isolasi, memperbanyak mikroba, pengujian sifat-sifat fisiologi dan perhitungan jumlah mikroba. Media agar-agar merupakan media yang sangat baik untuk memisahkan campuran mikroorganisme sehingga masing-masing jenisnya menjadi terpisah-pisah. Teknik yang digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme pada media agar memungkinkan tumbuh dengan agak berjauhan dengan sesamanya juga memungkinkan selnya membentuk atau membelah dan berhimpun untuk membentuk satu koloni. Sekelompok sel yang dapat dilihat dengan mata biasa semua sel dalam koloni itu sama dianggap adalah satu keturunan mikroorganisme bisa disebut berasal dari satu sel yang sama yang disebut biakan murni (Anonimb 2011: 1).  
Bahan yang diinokulasikan pada medium disebut inokulum. Dengan menginokulasi medium agar nutrien (nutrient agar) dengan metode cawan gores atau dengan metode cawan tuang, sel-sel mikroba itu akan terpisah sendiri-sendiri. Jika dua sel pada inokulum asal terlalu berdekatan letaknya pada medium agar, maka koloni yang terbentuk dari masing-masing sel dapat bercampur dengan sesamanya, atau paling tidak bersentuhan, jadi massa sel dapat diamati dala medium agar, bukanlah suatu biakan yang murni (Pelczar 2008: 86).
Medium manusia dapat berupa: medium cair, yang biasa digunakan adalah air kaldu.
Medium  kental,  dahulu kala  orang  lazim  menggunakan  kentang yang dipotong-potong berupa silinder untuk medium-medium yang diperkaya dan medium kering. Pekerjaan laboratorium sekarang ini banyak dipermudah dengan telah adanya bermacam-macam medium yang tersedia dalam bentuk serba kering. Dan yang terakhir adalah medium sintetik yang berupa ramuan-ramuan zat anorganik yang tertentu, yang mengandung zat karbon dan nitrogen yang diperlukan oleh mikroba untuk melakukan metabolisme (Dwidjoseputro 1991: 40).


Media setengah padat dibuat dengan bahan yang sama dengan media padat, tetapi yang berbeda adalah komposisi agarnya. Media ini digunakan untuk melihat gerak kuman secara mikroskopik. Pada media mati juga dikenal dengan adanya media sintetis. Media sintesis merupakan media yang mempunyai kandungan dan isi bahan yang telah diketahui secara terperinci. Media sintesis sering digunakan untuk mempelajari sifat faali dan senyawa genetika mikroorganisme. Senyawa anorganik dan senyawa organik yang ditambahkan kedalam media sintetis harus murni. Dengan demikian, media sistetis harganya menjadi cukup mahal (Waluyo 2007: 63).
Medium yang banyak digunakan dalam pekerjaan rutin di laboratorium adalah kaldu cair dan kaldu agar. Dasar makanan yang paling baik bagi pemiaraan bakteri adalah medium yang mengandung zat-zat organik seperti rebusan daging, sayur-sayuran, sisa-sisa makanan, atau ramuan-ramuan yang dibuat oleh manusia. Supaya mikroba dapat tumbuh dengan baik, dalam suatu medium perlu dipenuhi syarat-syarat yakni: medium harus mengandung semua nutrisi yang mudah digunakan oleh mikrobia, medium juga harus mempunyai tekanan osmosis, tegangan muka, dan pH yang sesuai, medium tidak mengandung zat-zat yang menghambat, dan medium harus steril tidak ada kontaminan dari mikroorganisme yang tidak diinginkan (Anonima 2011: 9).
Keragaman yang luas dalam hal tipe nutrisi dianatar mikroorganisme diimbangi oleh tersedianya berbagai media yang banyak macamnya untuk kultivasinya. Macam media yang tersedia dapat dikelompokkan dengan berbagai cara. Selain menyediakan nutrien yang sesuai untuk kultivasi mikroorganisme, juga perlu disediakan kondisi fisik yang memungkinkan pertumbuhan optimum. Mikroorganisme tidak hanya amat bervariasi dalam persyaratan nutrisinya, tetapi juga menunjukkan respons yang berbeda-beda terhadap kondisi fisik di dalam lingkungannya. Untuk keberjasilan kultivasi berbagai tipe bakteri, dibutuhkan satu kombinasi nutrien serta lingkungan fisik yang sesuai. Perkembangbiakkan bakteri dipengaruhi beberapa faktor, yaitu ;
- Suhu
- Cahaya
- Pengeringan (kelembaban)
- Keasaman (pH)
- Pengaruh O2 dari udara
- Pengaruh tekanan osmotik
- Pengaruh mikroorganisme disekitarnya
- Pengaruh zat kimia (desintektan0 terhadap mikroba
(Michael J. Pelczar, Jr. 2005, dasar-dasar Mikrobiologi)
Koloni bakteri memiliki beberapa ciri berdasarkan bentuk, tepian, dan elevasinya:
a. Berdasarkan bentuk, contohnya
- Bundar
- Bundar dengan tepian kerang
- Bundar dengan tepian timbul
- Keriput
- Tak beraturan dan menyebar
b. Berdasarkan tepian, contohnya :
- Licin
- Berombak
- Berlekuk
- Tak beraturan
- Siliat
c. Berdasarkan elevasi, contohnya :
- Datar
- Timbul
- Cembung
- Seperti tetesan
- Seperti tombol
(Mila Ermila, 2005, Penuntun Praktikum Mikrobiologi)
Sifat-sifat yang perlu diperhatikan pada koloni yang tumbuh dipermukaan medium yaitu :
a. Besar kecilnya koloni
b. Bentuk
c. Kenaikan permukaan
d. Halus kasarnya permukaan
e. Wajah permukaan
f. Warna
g. Kepekaan
Sifat-sifat koloni pada agar-agar lempengan mengenai bentuk, permukaan dan tepi. Sedangkan sifat-sifat koloni pada agar-agar miring berisikan pada bentuk dan tepi koloni. (dr. Indan Entjang, 2003. Mikrobiologi dan Parsitologi).
Jamur merupakan salah satu anggota dari fungi. Kadang pertumbuhannya pada makanan mudah dilihat karena tampak berserabut seperti kapas. Mula-mula berwarna putih à jika sudah ada sporaà terbentuk warna (tergantung jenis jamurnya). Ada tiga macam morfologi hifa, yaitu :
a. Aseptat atau senosit
b. Septat dengan sel-sel uninukleat
c. Septat dengan sel-sel multinukleat
(Pelczar dan Chan, 2005, Dasar-dasar Mikrobiologi)
Nama jenis jamur yang sering ditemui
1. Penicillium : hijau kebiruan, susunan konidia seperti sapu
2. Aspergillus : hijau kebiruan dengan area kuning sulfur pada permukaannya
3. Verticillium : coklat merah muda, konidia berbentuk olips
4. Irichoderma : hijau, secara makroskopis menyerupai penicillium
5. Gliocladium : hijau kehitaman, tumbuh lebih cepat dari 1 dan 2
6. Hormodendrum : permukaan hijau muda sampai kelabu, permukaan bagian bawah berwarna kelabu sampai hitam
7. Pleopora : permukaan sawo matang sampai hijau dengan permukaan belakang coklat sampai hitam, memperlihatkan oskospora
8. Scopulariopsisi : coklat muda, konidia berdinding kasar
9. Paecilomyces : coklat kekuningan, konidia berbentuk elips
10. Alternaria : permukaan hitam dengan tepian kelabu, permukaan belakang berwarna hitam
11. Helminthosporium : permukaan hitam dengan tepian kelabu
12. Pullularia : permukaan hitam, mengkilat, seperti kulit, berdinding tebal dengan spora menguncup
13. Oospora : permukaan berwarna kulit hifa pecah menjadi sel-sel berbentuk persegi panjang dan berdinding tipis.
(Mila Ermila, 2005, Penuntun Praktikum Mikrobiologi)
Di alam bebad tidak ada bakteri yang hidup sendiri terlepas dari spesies lainnya. Di laboratorium, supaya kita hanya mendapat satu spesies saja dalam suatu biakan campuran menjadi biakan murni memerlukan tehnik-tehnik untuk mengisolasi. Populasi campuran menjadi satu populasi sel. Biakan murni adalah biakan yang hanya terdiri dari satu populasi jenis mikroba yang semuanya berasal dari satu sel induk. Isolasi bakteri artinya memisahkan satu jenis bakteri dari biakan campuran menjadi biakan murni. Untuk mengisolasi suatu spesies dikenal beberapa cara, yaitu :
1. Cara cawan gores
2. cara cawan tuang
3. Cara cawan sebar
(Ani Murniati, 2002. Buku Penuntun Praktikum Mikrobiologi)



BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM
a.    Bahan


·         Ekstrak daging
·         Pepton
·         NaCl
·         Aquades
·         Agar
·         PCA
·         NB
·         PDA
·         EMB
·         SSA
·         NA


b.    Alat
Gambar alat
Nama alat
Hot plate
http://3.bp.blogspot.com/-fRcX9wFdz9o/UFq2iRHdrSI/AAAAAAAAAEo/cak3K_GD1Vw/s320/Hot-Plate-Electric-Stove-ES-025-.jpg
Neraca
http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQiWMUM9S2afOMqCi4xgpT09GMl9kCnVIAs0eF-D9TomDG9xsHSwVcyxQV_yA
Batang pengaduk
http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQpiwGptP_Jlbf-5iSLD6JkjiB8pWl9qaAlHKV4CSOuZslRz51vXEbVSnGeHA
Erlenmeyer
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/0/00/Erlenmeyer_flask_hg.jpg
Beker glass
http://w27.indonetwork.co.id/pdimage/65/2764665_glass-beaker.jpg
Autoklaf
http://tanyajamur.files.wordpress.com/2011/04/1460360_autoclave-sterilizer.jpg%3Fw%3D300
Tabung reaksi
http://2.bp.blogspot.com/-DORoPBURr4U/T2U_B8ZXlhI/AAAAAAAAABQ/ZaUfD-U7z54/s1600/Tabung%2Breaksi%2B1.jpg

c.    Prosedur kerja
*        NA
a.    Semua bhan dicampur dalam erlenmeyer lalu dipanaskan hingga mendidih sambil diaduk, kemudian sumbatlah erlenmeyer dengan kapas
b.    Ceklah pH-nya dengan kertas pH (pH ± 7,0)
c.    Sterilkan media dalam autoklaf selama 15menit pada suhu 121 OC
d.    Tuangkan media yang masih panas (suhu > 45 OC) kedalam petridish ( ± 15 ml) atau tabung reaksi ( ± 5 ml). Kerjakan dalam ruang yang steriluntuk mencegah kontaminasi
e.    Sebaiknya pada saat menuang media : untuk membuka / menutup patridish / tabung reaksi bertutup gunakan tangan kiri; untuk membuka/menutup erlenmeyer berisi media steril gunakan tangan kanan. Lakukan didekat pembakaran (burner).
f.     Dinginkan tabung reaksi pada posisi tegak (agar tegak) atau posisi miring (agar miring)
*        NB
a.    Semua bahan dicampur dalam erlenmeyer lalu dipanaskan sampai mendidih sambil diaduk. Keudia sumbatlah erlenmeyer dengan kapas
b.    Ceklah pH-nya dengan kertas pH (pH-nya diukur sampai pH ± 7,0)
c.    Sterilkan media dalam autoklaf selama 30 menit pada suhu 121 OC
d.    Tuangkan dalam tabungtabung reaksi sebanyak ± 5 ml (1/2 bagian) simpan dalam inkubator.
*        EMB
a.    Siapkan alat dan bahan
b.    Timbang reagen 7,9 gr (sesuai dengan kebutuhan, berpedoman pada cara pembuatan media yang tertera pada botol reagen
c.    Ukur pH aquadest 6,8±0,2. Jika pH masih di bawah ketentuan ( <5)>7) maka tambahkan HCL.
d.    Bahan yang telah ditimbang dilarutkan di dalam aquadest 200ml lalu di aduk. Karena tidak semua langsung larut maka digunakan waterbath untuk melarutkannya.
e.    Larutan yang telah larut kemudian disterilkan di dalam autoclave Selama 15 menit setelah mencapai 121ºC
f.     Setelah 15 menit larutan dikeluarkan dari autoclave dan dituang ke dalam 10 plate yang telah disiapkan.
g.    Plate yang telah diisi media tadi disimpan sampai dingin dan padat.kemudian di simpan dalam lemari Es
*        SSA
a.    Menyiapkan alat dan bahan
b.    Cara penimbangan
                                                        a)    Penimbangan reagent dilakukan sesuai dengan kebutuhan/volume yang akan dibuat berpedoman kepada cara pembuatan yang tertera pada botol reagent
                                                        b)    Pada botol reagent tertera 60 gram dalam 1 liter oleh karena pada saat itu volume yang dibuat adalah 1000 ml, maka ditimbang 30 gram sebanyak 2 kali dan dilarutkan masing-masing ke dalam 500 ml aquadest untuk mempermudah dalam proses pelarutan
c.    Mengatur pH aquadest
                                                        a)    Untuk menghindari kesalahan pembuatan media khususnya SSA, salah satunya harus memperhatikan pH aquadest yang digunakan. pH aquadestyang di atur pH nya sesuai dengan volume yang akan kita gunakan.
                                                        b)    pH aquadest untuk media SSA yaitu 7,0±0,2, jika pH masih dibawah ketentuan atau cenderung ke asam (<5),>7), maka harus ditambahkan HCL tetes demi tetes hingga mencapai pH yang digunakan
d.    Cara melarutkan SSA
                                                        a)    Bahan yang telah ditimbang dimasukkan ke dalam Erlenmeyer 1000 ml, sisa bahan yang menempel pada cawan yang digunakan menimbang dibilas dengan aquadest sebanyak 3 kali, kemudian tambahkan aquadest dengan pH yang telah di atur sebelumnya sampai pada garis tanda 500 ml lalu di aduk
                                                        b)    Karena tidak semua langsung larut maka untuk melarutkannya digunakan waterbath. Waktu pelarutan tidak ditentukan, namun sesekali harus dicek hingga tidak ada lagi butiran zat pada dinding tabung atau larutan.
                                                        c)    SSA tidak disterilkan dalam autoclave karena ada zat zat yang akan rusak yakni sodium sitrate dan sodium thiosulphate.
e.    Menuang ke dalam plat
                                                        a)    Tuang ke dalam plat (petridish) yang telah di sterilkan, caranya buka tutup petridish seminim mungkin untuk menghindari atau meminimalisasi terjadinya kontaminan lalu tuang larutan hingga menutupi permukaan petridish, tapi jangan terlalu tipis maupun terlalu tebal
                                                        b)    Setelah penuangan selesai biarkan media tersebut sampai dingin dan padat. Setelah itu media tersebut dibungkus dan disimpan dalam lemari es.
*        PDA
a.    Disiapkan alat dan bahan
b.    Media PDA ditimbang sebanyak 3,9 gr 
c.    Ditambahkan aquadest sebanyak 100ml dan diaduk rata
d.    Dipanaskan hingga tercampur rata
e.    500mg antibiotik digerus halus dan dimasukkan ke dalam media
f.     Media disterilkan di autoclave selama 1 jam
g.    Setelah disterilisasi media dituang ke dalam petridish
h.    Media ditunggu hingga dingin kemudian dibungkus dengan kertas
i.      Media disimpang di dalam lemari es




BAB IV
HASIL PENGAMATAN
No.
Jenis Media
Cara Pembuatan
Kegunaan
1.
Media Agar dalam cawan petri
Ditimbang media NA sebanyak 20 gr, kemudian dmasukkan dalam Erlenmeyer yang telah berisi aquades sebanyak 1 L lalu dipanaskan dengan hot plate sampai mendidih, dituangkan kedalam cawan petri yang sudah disterilkan selama 15 menit, ditunggu sampai padat, lalu dibungkus. media yang steril di autoklaf, yang tidak steril inkubator.
Untuk membiakkan bekteri pada medium datar sehingga dapat dilihat dengan jelas.
2.
Media Agar Miring
Ditimbang media seperlunya, dimasukkan kedalam Erlenmeyer, lalu masukkan magnetik strirrer ditutup dengan alumunium, kemudian dipanaskan diatas hot plate sampai memdidih kemudian diangkat dan dimasukkan kedalam tabung reaksi sebanyak 5ml. setelah beku, dibungkus dengan kertas dan di sterilkan ke dalam autoklaf lalu tabung dimiringkan. PDA=39 gr.
Untuk membiakkan bakteri pada medium tegak dan miring dalam tabung reaksi.
3.
Media Cair
Pembuatan media agar tegak sama dengan media agar media agar miring. Agar dimasukkan kedalam tabung reaksi, lalu dibungkus dengan kertas. Untuk media yang akan disterilkan dimasukkan autoklaf.
Untuk membiakkan bakteri pada medium tegak, inokulasinya digunakan dengan cara penusukkan.



BAB V
PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini menggunakan dua medium, yaitu medium Nutrient Agar atau NA dan Potato Dextrose Agar atau PDA. Setiap medium memiliki fungsi masing-masiing dalam menumbuhkan mikroorganisme. Medium NA memiliki fungsi yakni untuk mengembangbiakkan bakteri secara umum, sedangkan medium PDA berfungsi untuk menumbuhkan dan mengembangbiakkan fungi atau jamur. Kedua medium  tersebut sama-sama terbentuk dari medium agar, hanya berbeda jenis nutrisinya. Medium NA mengandung nutrisi-nutrisi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan bakteri, sedangkan medium PDA mengandung nutrisi-nutrisi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan jamur. Menurut Pelczar (2008: 138), menyatakan bahwa sifat-sifat media yang digunakan untuk faktor pertumbuhan yaitu harus mudah tumbuh, media harus dibuat, pertumbuhan bakteri harus khas dan mempunyai sifat-sifat yang diinginkan. Jika sifat ini dipenuhi, maka pertumbuhan bakteri akan bagus.
Pada proses pembuatan media, baik medium NA maupun media PDA menggunakan magnetik stirrer untuk menghomogenkan agar dengan aquades selama pemasakan agar. Menurut Hadiotomo (1993: 53), magnetik stirrer berfungsi sebagai alat penghomogenan atau pemercepat pelarutan, dan juga mengaduk medium selama sedang dipanaskan agar tidak terjadi penggumpalan pada saat dipanaskan. Selain itu, hot plate digunakan untuk memanaskan medium hingga masak dan mempercepat reaksi yang terjadi pada medium hingga mendidih. Autoklaf berfungsi untuk mensterilkan bahan-bahan dan alat-alat yang tahan terhadap panas dan tekanan yang tinggi. Pada waktu tertentu, jarum ose digunakan untuk memindahkan biakan dari satu medium ke medium yang lainnya.
Dalam pertumbuhan mikroorganisme tergantung dari nutrien media yang dibuat. Kebanyakan mikroorganisme membutuhkan air. Menurut Anonimb (2011: 1), bahan-bahan yang terlarut di dalam air yang digunakan mikroorganisme untuk membentuk badan sel dan memperoleh energi yang berasal dari bahan makanan. Perbedaan antara medium NA dan medium PDA yaitu terdapat pada nutrien penyusunnya. Pada medium NA, nutrien utama penyusunnya yakni adalah sepotong kaldu sedangkan medium PDA nutrien utama penyusunnya terdapat pada kentang. Karena itu nutrient ini dinamakan Potato Dextrose Agar.
Pada medium yang telah disterilkan, tidak terdapat mikroba dan tidak terjadi perubahan fisik seperti perubahan warna, tidak berbau, tidak terlihat permukaan medium yang tidak ditumbuhi oleh koloni mikroba. Hal ini menunjukkan bahwa medium yang telah disterilisasi tidak terjadi kontaminasi mikroba, sedangkan pada medium yang tidak disterilisasi terlebih dahulu ditumbuhi oleh mikroorganisme dan terjadi perubahan fisik pada medium tersebut. Terjadinya perubahan fisik menunjukkan bahwa medium terkontaminan atau terdapat mikroorganisme. Menurut Dwidjoseputro (1998: 59), terjadinya perubahan fisik pada medium ini disebabkan oleh mikroba yang terdapat pada medium. Hal ini menunjukkan bahwa medium telah terkontaminasi.
Keragaman yang luas dalam hal tipe nutrisi dianatar mikroorganisme diimbangi oleh tersedianya berbagai media yang banyak macamnya untuk kultivasinya. Menurut Anonimb (2011: 1), macam media yang tersedia dapat dikelompokkan dengan berbagai cara. Selain menyediakan nutrien yang sesuai untuk kultivasi mikroorganisme, juga perlu disediakan kondisi fisik yang memungkinkan pertumbuhan optimum. Mikroorganisme tidak hanya amat bervariasi dalam persyaratan nutrisinya, tetapi juga menunjukkan respons yang berbeda-beda terhadap kondisi fisik di dalam lingkungannya. Untuk keberjasilan kultivasi berbagai tipe bakteri, dibutuhkan satu kombinasi nutrien serta lingkungan fisik yang sesuai.
Bakteri tidak dapat hidup tanpa adanya media yang mengandung nutrisi-nutrisi untuk pertumbuhannya. Menurut Pelczar (2008: 139), media pertumbuhan mikroorganisme adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran zat-zat makanan (nutrisi) yang diperlukan mikroorganisme untuk pertumbuhannya. Mikroorganisme memanfaatkan nutrisi media berupa molekulmolekul kecil yang dirakit untuk menyusun komponen sel. Dengan media pertumbuhan dapat dilakukan isolat mikroorganisme menjadi kultur murni dan juga memanipulasi komposisi media pertumbuhannya.
Pada dasarnya media pertumbuhan dapat dikelompokan menjadi 5 kelompok besar yaitu medium cair, medium kental, medium yang diperkaya, medium kering dan media sinergik. Medium cair yang sering digunakan diantaranya peptone. Peptone ialah protein yang terdapat pada daging, air susu, kedelai, putih telur. Medium kental biasa terdapat unsur agar-agar yang berfungsi untuk memperkental tidak untuk merbuah kandungan nutrisi media tersebut. Menurut Waluyo (2010: 134), berdasarkan bentuk fisiknya, media pertumbuhan dapat dikelompokkan menjadi media padat, setengah padat dan cair. Media padat adalah media yang mengandung 15% agar sehingga mudah mengeras. Media setengah padat yaitu media yang mengandung agar 0,3-0,4% sehingga menjadi sedikit kenyal, tidak padat, tidak begitu cair. Media semi solid dibuat dengan tujuan supaya pertumbuhan mikroba dapat menyebar ke seluruh media tetapi tidak mengalami percampuran sempurna jika tergoyang. Medium cair yaitu media yang tidak mengandung agar, contohnya adalah NB (Nutrient Broth), LB (Lactose Broth).
berdasarkan tujuan pembuatannya, media dapat dikelompokkan menjadi 6 kelompok. Menurut Pelczar (2008: 139), media pertama adalah media yang digunakan untuk isolasi. Media ini mengandung semua senyawa esensial untuk pertumbuhan mikroba, misalnya Nutrient Broth, Blood Agar. Media selektif/penghambat merupakan media yang selain mengandung nutrisi juga ditambah suatu zat tertentu sehingga media tersebut dapat menekan pertumbuhan mikroba lain dan merangsang pertumbuhan mikroba yang diinginkan. Media yang diperkaya, media untuk peremajaan kultur, media untuk mementukan kebutan nutrien tertemtu, media untuk karakteristikasi bakteri dan media diferensial adalah beberapa bentuk media berdasarkan fungsi tujuannya.
Pemilihan media yang baik akan menunjang pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroba. Kesesuaian suhu, pH, kecukupan nutrien pada media merupakan beberapa syarat untuk mikroba tersebut dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Menurut  Stanier (2011: 221), pada pembuatan media untuk berbagai macam organisme harus menggunakan bahan yang mengandung banyak protein dangan berbagai konsentrasinya sehingga dapat menumbuhkan bakteri. Salah satu bahan yang sering dipergunakan adalah tauge. Tauge berfungsi sebagai sumber protein, sukrosa berfungsi sebagai sumber karbohidrat sehinga cocok dijadikan untuk media pertumbuhan mikroba.
Mikroorganisme yang ingin kita tumbuhkan, yang pertama harus dilakukan adalahmemahami kebutuhan dasarnya kemudian memformulasikan suatu medium atau bahan yangakan digunakan. Air sangat penting bagi organisme bersel tunggal sebagai komponen utamaprotoplasmanya serta untuk masuknya nutrien ke dalam sel. Pembuatan medium sebaiknyamenggunakan air suling. Air sadah umumnya mengandung ion kalsium dan magnesium yangtinggi. Pada medium yang mengandung pepton dan ektrak daging, air dengan kualitas airsadah sudah dapat menyebabkan terbentuknya endapan fosfat dan magnesium fosfat .Alat yang akan digunakan dalam suatu penelitian atau praktikum harus disterilisasiterlebih dahulu untuk membebaskan semua bahan dan peralatan tersebut dari semua bentuk kehidupan. Sterilisasi merupakan suatu proses untuk mematikan semua organisme yangteradapat pada suatu benda. Proses sterilisasi dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitupenggunaan panas (pemijaran dan udara panas); penyaringan; penggunaan bahan kimia(etilena oksida, asam perasetat, formaldehida dan glutaraldehida alkalin).Memformulasikan suatu medium atau bahan yang akan digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme di dalamnya harus memperhatikan berbagi macam ketentuanseperti jika yang ingin kita membuat medium untuk organisme bersel tunggal, biasanya airsangat penting sebagai komponen utama protoplasmanya serta untuk masuknya nutrien kedalam sel. Pembuatan medium agar padat, digunakan agar-agar, gelatin atau gel silika. Bahanagar yang utama adalah galaktan (komplek karbohidrat yang diekstrak dari alga genusGelidium). Agar akan larut atau cair pada suhu hampir 100 0C dan akan cair apabila kuranglebih 43oC. Agar merupakan media tumbuh yang ideal yang diperkenalkan melalui metode bacteriaological.
Organisme hidup memerlukan nutrisi untuk pertumbuhannya. Subtansi kimia organik dan inorganik diperoleh dari lingkungan dalam berbagai macam bentuk. Nutrien diambil darilingkungan kemudian ditransformasikan melalui membran plasma menuju sel. Di selbeberapa nutrisi diolah menghasilkan energi yang digunakan dalam proses seluler. Bakteridalam medium juga memerlukan makanan untuk pertumbuhannya. Bakteri yang tidak punyaakar harus berada pada permukaan larutan makanan yang cair. Pertumbuhan bakteri berartimeningkatnya jumlah sel yang konstituen (yang menyusun). Apabila disusun 10 bakteridalam 1 ml medium yang cocok dan 24 jam kemudian ditemukan 10 juta bakteri tiapmilimeternya, maka terjadilah pertumbuhan bakteri. Meningkatnya jumlah bakteri terjadidengan proses yang disebut dengan pembelahan biner, dimana setiap bakteri membentuk dinding sel baru .Pertumbuhan bakteri selain memerlukan nutrisi, juga memerlukan pH yang tepat.Kebanyakan bakteri tidak dapat tumbuh pada kondisi yang terlalu basa, kecuali Vibriochplerae yang dapat hidup pada pH lebih dari 8. Suhu juga merupakan variabel yang perlu dikendalikan. Kelompok terbesar yaitu mesofil, suhu optimum untuk pertumbuhannya 20-400C.  pH merupakan faktor yang sangat mempengaruhi suatu keberhasilan dalampembuatan medium sehingga kondisi pH yang terlalu basa atau terlalu asam tidak cocok untuk dijadikan medium mikroba karena mikroba tidak dapat hidup pada kondisi tersebut.Medium didiamkan atau disimpan selama 2 x 24 jam untuk menyakinkan bahwa mediummasih steril, karena selain pH sebagai penentu tumbuhnya mikroba, alat dan medium yangsteril juga menentukan .Pembuatan medium Nutrien Agar (NA) menggunakan bahan utama beef ekstrak 5 g,peptom 3 g dan agar 3 g. Pada awal pengamatan medium Nutrien Agar, sebelum prosessterilisasi berwarna kuning, setelah sterilisasi warna medium menjadi agak coklat. Padapembuatan medium NA ini ditambahkan pepton agar mikroba cepat tumbuh, karena mengandung banyak N2.
Nutrient agar (NA) termasuk medium semi alamiah karena tersusun atas bahan alami(daging) dan bahan sintesis (pepton dan agar). Fungsi bahan yang digunakan pada mediumNA :- Daging : sebagai sumber vitamin B, mengandung nitrogen organik dan senyawa karbon.- Pepton : sebagai sumber utama nitrogen organic dan sumber nutrisi- Agar : Untuk memadatkan medium NA.- Aquadest : Untuk melarutkan agar, pepton, dan daging.
Media PDA (Potato Dextrosa agar) merupakan medium semi sintetik. Mediamerupakan tempat dimana tejadi perkembangan organisme. Organisme menyerapkarbohidrat dari kaldu kentang dan gula serta dari agar yang telah bercampur. Halinilah yang menyebabkan mengapa kentang harus di potong dadu, agar karbohidrat di kentang dapat keluar dan menyatu dengan air sehngga menjadikaldu. Semakin kecil permukaan, maka semakin besar daya osmosisnya.
 Syarat media yang baik adalah:
- Mengandung bahan makanan yang sesuai bagi jasad renik
- Mengandung oksigen tersedia yang dibutuhkan
- Mengandung kelembaban tertentu
- Ph media harus sesuai- Suhu media harus cocok 
- Media harus steril
- Media harus terlindung dari kontaminasiMedia biakan merupakan suatu zat yang digunakan untuk menumbuhkan jasadrenik di laboraturium.



BAB VII
JAWAB PERTANYAAN
1.    Sebutkan klasifikasi macam-macam media yang saudara ketahui
Media dapat diklasifikasikan berdasarkan atas susunan kimia, konsistensi dan fungsinya :
1.    Klasifikasikasi media berdasarkan susunan kimianya yakni
·         Media anorganik, yaitu media yang tersusun atas bahan-bahan anorganik
·         Media organik, yaitu media yang tersusun atas bahan-bahan organik
·         Media sintestik, yaitu media yang susunan kimianya dapat diketahui dengan pasti, media ini biasanya digunakan untuk mempelajari kebutuhan nutrisi mikroba.
·         Media non sintetik (alami), media ini banyak digunakan untuk menumbuhkan dan untuk mempelajari taksonomi mikroba.
2.    Klasifikasi media berdasarkan konssistennya yakni
·         Media cair, yaitu media yang berbentuk cair
·         Media padat, media yang berbentuk padat, media ini dapat berbentuk padat, media ini dapat berbentuk media organik (alamiah) misalnya media wortel, kentang dll atau media anorganik misalnya silika gel. Media dapat diperoleh juga dengan cara menambahkan agar-agar  yang berasal dari ganggang/alga yang berfunsi sebagai bahan pemadat. Alga digunakan karena bahan ini tidak diuraikan oleh mikroorganisme, dan dapat membeku pada suhu diata 450C. Media padat ini terbagi menjadi media agar miring dan deep
·         Media semi padat, dapat dibuat dengan bahan yang sama dengan media padat tetapi yang berbeda adalah komposisi agarnya. Media ini digunakan untuk melihat gerak kuman secara mikroskopik
3.    Klasifikasi media berdasarkan fungsinya
·         Media diperkaya, yaitu media yang ditambah zat-zat tertentu misalnya serum, darah, ekstrat tumbuhan dan lainnya, sehingga dapat digunakan untuk menumbuhkan mikroba heterotrof tertentu.
·         Media selektif, yaitu media yang ditambahkan zat kimia tertentu yang bersifat selektif untuk mencegah pertunbuhan mikroba lain, misalnya media yang mengandung kristal violet pada kadar tertentu dapat mencegah pertumbuhan bakteri gram positif tanpa mempengaruhi pertumbuhan gram negatif.
·         Media diferensial, media yang ditambah regensia atau zat kimia tertentu yang menyebabkan suatu mikroba memebentuk pertumbuhan atau mengadakan perubahan tertentu sehingga dapat membedakan bakteri hemolitik dan non hemolitik.
·         Media penguji, media dengan susunan asam-asam amino tertentu yang digunakan untuk menguji vitamin-vitamin, asam-asam amino. Antibiotik dll.
·         Media untuk perhitungan jumlah nmikroba, media spesifik yang digunakan untuk menghitung jumlah mikroba dalam suatu bahan, misalnya media untuk menghitung jumlah bakteri, actinomicetes, dll
·         Media khusus, media untuk menentukan tipe pertumbuhan mikroba dan kemampuannya untuk mengadakan perubahan-perubahan kimia tertentu.

2.    Terangkan fungsi masing-masing komponen media tersebut
Media umum: untuk pertumbuhan berbagai jenis mikroorganisme, misalnya media potato-dextrose agar (jamur dan yeast), nutrient-broth (bakteria)
Media pengaya (enriched media): memberi lingkungan pertumbuhan sau jenis bakteria agar tumbuh sangat cepat misalnya selenite-broth medium (Salmonella typhi)
Media selektif: hanya bisa ditumbuhi mikroorganisme tertentu saja, misalnya Salmonella-Shigella agar.
Media diferensial/pembeda: untuk menentukan mikroorganisme tertentu, misalnya media darah-agar untuk bakteri hemolitik, A.flavus/parasiticus agar untuk Aspergillus flavus & A. parasiticus.
Media penguji: untuk menguji senyawa tertentu dengan bantuan mikroorganisme, misalnya untuk menguji vitamin, asam amino, antibiotik, residu pestisida, dll.
Media untuk penghitungan sel: media umum/diferensial/sintetik/semi-sintetik untuk menumbuhkan mikroorganisme dan menghitung selnya.

3.    Sebutkan tujuan penggunaan media dasar / selektif diatas
Media selektif (selective medium) /media penghambat adalah media yang ditambah zat kimia tertentu yang bersifat selektif untuk mencegah pertumbuhan mikroba lain sehingga dapat mengisolasi mikroba tertentu, misalnya media yang mengandung kristal violet pada kadar tertentu, dapat mencegah pertumbuhan bakteri gram positif tanpa mempengaruhi bakteri gram negatif.
Media ini selain mengandung nutrisi juga ditambah suatu zat tertentu sehingga media tersebut dapat menekan pertumbuhan mikroba lain dan merangsang pertumbuhan mikroba yang diinginkan.
BAB VII
KESIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilakukan, diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut:
û  Medium NA digunakan untuk menumbuhkan bakteri, sedangkan medium PDA digunakan untuk menumbuhkan jamur.
û  Macam-macam media yang digunakan yaitu media datar/cawan petri, media tegak, dan media agar miring.
û  Medium yang telah disterilkan tidak ditumbuhi oleh mikroba karena kontaminan telah hilang setelah sterilisasi.
û  Medium yang tidak di sterilkan dapat mengakibatkan terjadinya kontaminasi yang diakibatkan oleh mikroba yang terdapat di udara.
û  Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri yaitu faktor lingkungan dan faktor suhu serta nutrisi di dalam medium



DAFTAR PUSTAKA







1 komentar: