Sabtu, 22 Desember 2012

daya oligodinamik


BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar belakang
Pertumbuhan mikroba dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, proses berlangsungnya metabolisme dan komposisi media atau substrat tempat hidupnya. Kondisi lingkungan antara lain : pH, senyawa kimia ( ion logam, organik dan an organik ), temperatur, tekanan osmosa, dan lain-lain. Ion logam yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba antara lain : ion Cu++, ion Ag+, dan ion Hg+. Proses penghambatan ion logam terhadap pertumbuhan mikroba disebut oligodinamik.
B.   Tujuan
1.    Menunjukkan pengaruh logam berat terhadap pertumbuhan mikroorganisme
2.    Menunjukkan pengaruh desinfektan terhadap pertumbuhan bakteri tertentu


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
          Mikroorganisme menyatakan suatu keadaan mikroorganisme yang meskipun masih hidup ( viable ) tetapi tidak mengadakan multiplikasi. Terjadinya keadaan mikrobiastis dapat disebabkan oleh pengaruh fisik seperti , pengeringan , immobilitasi air sel dengan larutan yang tekanan osmotisnya tinggi, atau dengan gabungan dari cara – cara tersebut. Mikrobiostatis kimia dapat disinfiksi adalah dua ungkapan yang perbedannya terletak pada apa yang diartikan dengan mematikan secara cepat ( yaitu disenfeksi ) dan apa yang diartikan dengan mematikan secara lambat ( yaitu mikrobiostatis ). Zat – zat kimia yang merupakan tipe umum dari mikrobiostatis  kimia terdiri dari tiga macam yaitu zat warna aniline, sulfonamide, dan antibiotic ( Irianto, 2006 ).
            Zat – zat yang menghambat pembiakan secara bakteri dengan tiada membunuhnya disebut zat antiseptic atau zat bakteriostatik. Zat yang dapat membunuh bakteri disebut disenfektan, germisida atau bakterisida. Ada disenfektan yang membunuh bakteri dengan tidak merusaknya sama sekali, tetapi zat – zat kimia seperti basa dan asam organic menyebabkan hancurnya bakteri dan mungkin terjadi kehancuran ini akibat dari suatu hidrolisis. Kerusakan bakteri pada umumnya dibagi atas 3 golongan yaitu oksidasi, koagulasi atau penggumpalan protein, depresi dan ketegangan permukaan                                              ( Dwidjoseputro,2005 )
            Pada umumnya bakteri yang muda kurang daya tahannya terhadap disenfektan dari pada bakteri yang tua. Faktor – factor yang mempengaruhi daya disenfektan antara lain pekat encernya kosentrasi, kenaikan temperature menambah daya disenfektan, medium juga dapat menawarkan disenfektan. Susu , plasma darah dan zat – zat lain yang serupa protein sering melindungi bakteri terhadap pengaruh disenfektan tertentu ( Dwidjoseputro,2005 ).
            Beberapa disenfektan dan antiseptic , zat – zat yang dapat membunuh  atau menghambat pertumbuhan bakteri dapat dibagi atas gram – gram logam , fenol dan senyawa -  senyawa lain yang sejenis, formal dehida , alkohol, yodium klor dan persenyawaan klor, zat warna , detergen , sulfona muda, dan antibiotic                          ( Dwidjoseputro,2005 ).
            Menurut Waksman, antibiotic adalah zat – zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme , dan zat – zat itu dalam jumlah yang sedikit pun mempunyai daya penghambat kegiatan mikroorganisme yang lain. Antibiotik yang pertama dikenal adalah penisilin, suatu zat yang dihasilkan oleh jamur penicilium. Sp. Penisilin ditemukan oleh flerning pada tahun 1929, namun baru sejak tahun 1943 antibiotik ini banyak digunakan sebagai pembunuh bakteri. Antibiotik yang efektif bagi banyak spesies bakteri dikatakan mempunyai spectrum luas, sebaliknya antibiotic yang hanya efektif untuk spesies tertentu mempunyai spectrum yang sempit. Sebelum suatu antibiotic digunakan untuk keperluan pengobatan, maka perlulah terlebih dahulu antibiotic diuji efeknya terhadap spesies bakteri tertentu. Sesuai dengan keperluan , maka suatu antibiotic dapat diberikan kepada seorang pasien dengan jalan penyuntikan dapat dilakukan dengan intra moskular ( Dwidjoseputro,2005 ).
            Kekuatan antibiotic yang diproduksi harus disesuaikan dengan                          “ Internasional Standard Sample “ dan satuan internasional. Pada umumnya contoh baku internasional dari suatu antibiotic mengandung sejumlah antibiotic yang telah dimurnikan secara teliti, baik terhadap kekuatannya maupun keaktifannya. Ada beberapa cara untuk menentukan preparat antibiotic. Penentuan kekuatan ini dapat dilakukan dengan tujuan sebagai berikut, menghitung daerah penghambatan dalam dalam lempeng agar dapat menentukan kosentrasi terkecil yang masih dapat menghambat pertumbuhan  ( MIC ) dari suatu antibiotic terhadap organisme yang belum diketahui , dan untuk mengetahui konsentrasi antibiotic yang dapat tercapai dalam cairan tubuh atau jaringan ( Irianto, 2006 ).
            Berdasarkan luas aktifitasnya antibiotika dapat digolongkan atas zat – zat dengan aktifitas sempit dan zat – zat dengan aktifitas luas , adapun penggolongan antibiotika adalah sebagai berikut golongan penisilin , golongan sefalosparin, golongan aminoglikosida , golongan chlorampenicol, golongan tetrasidin, golongan makrosida, golongan quinolon ( Waluyo,2004 ).
            Pada mulanya diduga mekanisme aktifitasnya antimikroba adalah antagonisme kompetitif, tetapi nyatanya organisme kompetitif jarang terjadi. Kebanyakan zat antimikroba yang efektif kerjanya mengganggu sintesis penyusunan atau komponen – komponen makromolekul sel. ( Irianto, 2006 ).
Beberapa Disinfektan dan Antiseptik
a. Logam-logam Berat
Logam berat berfungsi sebagai antimikroba oleh karena dapat mempresipitasikan enzim - enzim atau protein esensial dalam sel. Logam-logam berat yang umum dipakai adalah Hg, Ag, As, Zr dan Cu. Daya antimikroba dari logam berat, dimana pada konsentrasi yang kecil saja dapat membunuh mikroba dinamakan daya oligodinamik. Tetapi garam dari logam berat ini mudah merusak kulit, merusak alat - alat yang terbuat dari logam, dan harganya mahal (Dwidjoseputro, 2005).
b. Fenol dan Senvawa-senyawa Sejenis
Fenol (asam karbol) untuk pertama kalinya dipergunakan Lister di dalam
ruang bedah sebagai germisida, untuk mencegah timbulnya infeksi pasca bedah. Pada konsentrasi yang rendah (2 - 4%), daya bunuhnya disebabkan karena fenol mempresipitasikan protein secara aktif, dan selain itu juga merusak membran sel dengan cara menurunkan tegangan permukaannya. Fenol merupakan standar pembanding untuk menentukan aktivitas atau khasiat suatu disinfektan (Dwidjoseputro, 2005).
Kresol (kreolin) lebih baik khasiatnya dari pada fenol. Lisol adalah disinfektan yang berupa campuran sabun dengan kresol, lisol lebih banyak digunakan daripada desinfektan lainnya (Dwidjoseputro, 2005).
Karbol adalah nama lain dari fenol. Seringkali orang mencampurkan baubauan yang sedap, sehingga disinfektan menjadi lebih menarik (Dwidjoseputro, 2005).
c. Alkohol
Alkohol merupakan zat yang paling efektif dan dapat diandalkan untuk sterilisasi dan disinfeksi. Alkohol mendenaturasikan protein dengan jalan dehidrasi, dan juga merupakan pelarut lemak. Oleh karena itu, membran sel sel akan rusak, dan enzim - enzim akan dinonaktifkan oleh alkohol. Etanol murni kurang daya bunuhnya terhadap mikroba Jika dicampur dengan air murni, efeknya menjadi lebih baik Alkohol 50 - 70% banyak dipergunakan sebagian disinfektan (Dwidjoseputro, 2005).
Ada 3 jenis alkohol yang dipergunakan sebagai disinfektan, yaitu metanol, etanol, dan isopropanol. Menurut ketentuan, semakin tinggi berat molekulnya, semakin meningkat pula daya disinfektannya. Oleh karena itu, diantara ketiga jenis alkohol tersebut isopropil alkohol adalah yang paling banyak digunakan. Yang banyak dipergunakan dalam praktek adaiah larutan alkohol 70 – 80% dalam air. Konsentrasi di atas 90% atau dibawah 50% biasanya kurang efektif kecuali untuk isopropil alkohol yang masih tetap efektif sampai konsentrasi 99%. Waktu yang diperlukan untuk membunuh sel-sel vegetatif cukup 10 menit, tetapi untuk spora tidak (Dwidjoseputro, 2005).
d . Aldehid
Cara bekerjanya aldehid ialah dengan cara membunuh sel mikroba dengan mendenaturasikan protein. Larutan formaldehid (CH2O) 20% dalam 65-70% alkohol merupakan cairan pensteril yang sangat baik apabila aiat-alat direndam selama 18 jam. Akan tetapi karena meninggalkan residu, maka alat-alat tersebut harus dibilas dulu sebelum dipakai. Senyawa lain aldehid, yakni glutaraldehid merupakan solusi seefektif formaldehid, terutama bila pH-nya 7,5 atau lebih. Stafilokokus dan Iain-lain sel vegetatif akan dimatikan dalam waktu 5 menit, Mycobacterium tuberculosis dan virus dalam waktu 10 menit, sedangkan untuk membunuh spora diperlukan 3-12 jam. Senyawa tersebut bersifat nontoksik dan tidak iritatif bagi manusia (Dwidjoseputro, 2005).
e. Yodium
Larutan yodium, baik dalam air maupun dalam alkohol bersifat sangat antiseptik dan telah lama dipakai sejak lama sebagai antiseptik kulit sebelum proses pembedahan (Dwidjoseputro, 2005).
f. Klor dan Senyawa Klor
Klorin bebas memiliki warna khas (hijau) dan bau yang tajam. Sudah lama klorin dikenal sebagai deodoran dan disinfektan yang sangat baik. Klorin dijadikan standar pengolahan air minum di seluruh lingkungan. Sayangnya kebanyakan senyawa klorin diinaktifkan bahan-bahan organik dan beberapa katalisator logam (Dwidjoseputro, 2005).
g. Peroksida
Peroksida hidrogen (H202) merupakan antiseptik yang efektif nontoksik. Molekulnya tidak stabit dan apabila dipanaskan akan teurai menjadi air dan oksigen (Dwidjoseputro, 2005).
h. Zat Warna
Beberapa zat warna dapat menghambat pertumbuhan kur (bakteriostatik),
misalnya derivat akridin dan zat warna rosan Akriflavin (campuran derivat akridin
dengan senyawa I mempunyai spektrum aktivitas yang luas, dan telah lama dipergunakan untuk mengobati infeksi traktus urinar Mekanisme kerjanya disebabkan karena akridin mampu bereduksi dengan ADN mikrobe (Dwidjoseputro, 2005).
i. Deterjen
Sabun biasa tidak banyak khasiatnya sebagai zat pembunuh bakteri (bakterisida), tetapi kalau dicampur dengan heksaklorofen daya bunuhnya menjadi besar sekali. Sejak lama obat pencuci yang mengandung ion (deterjen) banyak digunakan sebagai pengganti sabun. Deterjen tidak hanya bersifat bakteriostatik, melainkan juga merupakan bakterisida. Terutama bakteri yang bersifat Gram positif (Dwidjoseputro, 2005).
j. Suifonamida
Sejak tahun 1937 banyak digunakan persenyawaan-persenyawaan yang mengandung belerang sebagai penghambat pertumbuhan bakteri dan tidak memiliki sifat tidak merusak jaringan manusia. Mikroba yang peka terhadap suifonamida, antara lain Streptococcus yang mengganggu tenggorokan, Pneumococcus, Gonococcus, dan Meningococcus. Penggunaan obat ini bila tidak dengan aturan, akan menimbulkan gejala-gejala alergi dan berakibat kekebalan bagi mikrobe-mikrobe tertentu (Dwidjoseputro, 2005).



BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM
a.    Bahan

·         Vixal
·         Hit
·         Dettol
·         Minyak tanah
·         Listerin
·         Logam
·         Larutan HNO3
·         Media NA

b.    Alat
Nama alat
Gambar
Kertas saring
http://w34.indonetwork.co.id/pdimage/27/s_733827_alat80.jpg
Petridish
http://w33.indonetwork.co.id/pdimage/88/1097188_petridish1.gif
Pinset
http://1.bp.blogspot.com/-DRaUnqLCcQU/UFq0bmISpCI/AAAAAAAAACw/nkMaVT2pvYo/s320/pinset%2Bts-11.JPG
Inkubator
http://w31.indonetwork.co.id/pdimage/63/3780463_s_2317832_incubator-memmert.jpg
Bunsen
http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQqHm5dNkmJ4oBBfpGUxpMLGZ3bxilNmHF8vk7ZfWiDK0Sxwy1IZgH6mMg



c.    Prosedur kerja
Zat Oligodinamika
1.    Bersihkan logam (Ag atau Cu) dengan larutan HNOencer kemudian cuci dengan air sampai bersih
2.    Keringkan dengan pemanas diatas nyala api
3.    Letakkan logam tersebut ditengah-tengah petridish steril
4.    Inonulasikan bakteri ke nutrient agar yang sudah hangat (45oC) lalu tuangkan nutrient agar ini ke pertidish dan biarkan dingin
5.    Inkubasi pada suhu kamar selama 48jam.
Zat antiseptik dan desinfektan
1.    Inokulasikan 2 macam bakteri kedalam tabung reaksi yang berisi nutrient agar hangat, lalu tuangkan agar ini ke-2 petridish steril dan biarkan dingin
2.    Celupkan 2 potong ertas yang berbentuk lingkaran kedalam larutan desinfektan dan antiseptik, angkat dan letakkan sebentar pada sehelai kertas saring untuk mencegah menetasnya kelebihan desinfektan atau antiseptik
3.    Letakkan masing-masing kertas saring ke dalam masing-masing pertidish
4.    Inkubasi pada suhu kamar selama 48jam


BAB IV
HASIL PENGAMATAN
Kelompok
Sampel
Gambar
Keterangan
A & H
Logam

D1 = 2,2 cm
D2 =2,5 cm
https://fbcdn-sphotos-b-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/189390_3952615701502_1961685147_n.jpg
D1 = 3 cm
D2 = 3,1 cm
L1 = 7,065 cm2
L2 = 7,536 cm2
Zona aman= 0,471 cm2

L1 = 3,7994 cm2
L2 = 4,90625 cm2
Zona aman= 1,10685 cm2
B & I
Listerin
https://fbcdn-sphotos-f-a.akamaihd.net/hphotos-ak-prn1/77083_3952618901582_289041956_n.jpg
Tidak ada https://fbcdn-sphotos-d-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash3/154491_3952615901507_881526217_n.jpg
Tidak ada
Tidak ada

C & J
Hit
https://fbcdn-sphotos-d-a.akamaihd.net/hphotos-ak-prn1/558868_3952619621600_477601146_n.jpg
D1 = 2,2 cm
D2 =2,4 cm
https://fbcdn-sphotos-f-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/486912_3952616421520_1253464212_n.jpg
D1 = 3 cm
D2 = 3,3 cm
L1 = 3,7994 cm2
L2 = 4,5216 cm2
Zona penghambat = 0,7222 cm2



L1 = 7,065 cm2
L2 = 8,549 cm2
Zona penghambat = 1,484 cm2
D & K
Dettol
https://fbcdn-sphotos-f-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/320554_3952612301417_675764035_n.jpg
Tidak ada
https://fbcdn-sphotos-g-a.akamaihd.net/hphotos-ak-snc6/189286_3952616941533_1467511245_n.jpg
Tidak ada
Tidak ada
E & L
Vixal
https://fbcdn-sphotos-h-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/484327_3952610181364_1305903125_n.jpg
D1 = 3 cm
D2 = 3,1 cm
https://fbcdn-sphotos-a-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash3/151001_3952617541548_1403979568_n.jpg
D1 = 2,2 cm
D2 =2,3 cm
L1 =7,065 cm2
L2 = 7,5438 cm2
Zona penghambat = 0,4788 cm2






L1 = 3,7994 cm2
L2 = 4,1562 cm2
Zona penghambat = 0,3532 cm2


F & M
Wipol
https://fbcdn-sphotos-e-a.akamaihd.net/hphotos-ak-prn1/30346_3952614781479_478484259_n.jpg
D1 = 3 cm
D2 = 3,1 cm
https://fbcdn-sphotos-c-a.akamaihd.net/hphotos-ak-snc6/8784_3952618181564_1034866423_n.jpg
D1 = 2 cm
D2 = 2,2 cm
L1 = 7,065 cm2
L2 = 8,0384 cm2
Zona penghambat = 0,9734 cm2






L1 = 3,7994 cm2
L2 = 4,1526 cm2
Zona penghambat = 0,3632 cm2
G & N
Minyak tanah
https://fbcdn-sphotos-h-a.akamaihd.net/hphotos-ak-prn1/18219_3952615301492_8956194_n.jpg
Tidak ada
https://fbcdn-sphotos-e-a.akamaihd.net/hphotos-ak-prn1/151025_3952618341568_963069010_n.jpg
Tidak ada
Tidak ada



BAB V
PEMBAHASAN
Antibiotik adalah golongan senyawa, baik alami maupun sintetik, yng mempunyaiefek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia dalam organisme khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri (Dwidjoseputro, 2005).
          Penggunaan antbiotik khususnya berkaian dengan pengobatan penyakit infeksi, meskipun dalam bioteknologi dan rekayasa genetka juga digunakan sebagai alat seleksi terhadap muatan atau transform. Antibiotik bekerja seperti peptida dengan menekan atau memutus suatu mata rantai metabolisme, hanya saja targetnya adalh bakteri, antibioika berbeda dengan disenfektan cara kerjanya (Dwidjoseputro, 2005).
          Desinfektan adalah zat kimia yang mematikan sel vegetativ belum tentu mematikan bentuk sepora mikroorganisme penyebab suatu penyakit kelompok utama desinfektan yaitu fenol, alkohol, detergen, hologen. Cara kerja zat – zat kimia dalam mematikan atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme, bebeda – beda antara lain dengan merusak dinding sel, mengubah permeabilitas sel, mengubah molekul protein dan asam amino yang memiliki mikroorganisme, menghsmbst kerja enzim, menhambat simiosis asam nukleat dan protein, serta sebagai anti metabolit (Dwidjoseputro, 2005)
          Desinfektan digunakan untuk menghambat ertumbuhan mikroorganisme pada  benda – benda mati seperti meja, lantai, objek glass dan lain – lain. Desinfektan sangat penting bagi rumah sakit dan klinik. Desinfektan akan memebantu mecegah infeksi terhadap pasien yang berasal dari peralatan maupun dari hal medis yang ada dirumah sakit dan juga memebantu mencegah tertularnya tenaga medis oleh penyakit pasien. Desinfektan fungsinya bahan kimia yang digunakan untuk mencegah terjadinya enfeksi atau pencemaran oleh jasad renik, dan agar untuk membasmi kuman penyakit desinfektan tidak memiliki daya pentrasi sehingga tidak mampu memebunuh mikroorganisme yang terdapat didalam celah atau cemaran (Dwidjoseputro, 2005).
          Baterisiada adalah suatu bahan yang mematikan bentuk – bentuk bakteri, bakteriostatis adalah suatu keadaan yang menghambat pertumbuhan bakteri (waluyo, 2004)
          Staphylococcus areus adalah bakteri berbentuk coccus, gram negatif, farmasi staphylae, mengeluarkan endotoxin, tdak bergerak, tidak mampu membentuk spoa, fakultatf anerob, sangat tahan terhadap pengeringan, mati pada suhu 600C setelah 60 menit, meruppakan flora normal pada kulit dan saluran pernapasan bagian atas (Waluyo, 2004).
          Pada percobaan ini yatu uji daya hambat mikroba digunakan 3 antibiotik, 1 detejen dan empat disenfektan dan digunakan bakteri Staphylococcus areus. Diperoleh zat yang memiliki zona hambat terbesar adalah  0,9734 cm2. Hit daya hambatnya 0,7222 cm2, kemudian wipol dengan zona hambat 0,3532 cm2 dan vixal dengan zona hambat 0,4788 sedangkan listeri, dettol, dan minyak tanah tidak mempengaruhi dalam menghambat bakteri dengan tidak adnya zona hambat.
          Faktor kesalahan pada pratikum ini adalah menyulap media NA tidak sampai rata pada permukaanya NA, sehingga dapat menghambat pertumbuhan mikroba, pinset dipanaskan terlalu panas dan tidak dianginkan terlebih dahulu sehingga dapat membunuh mikroba.


BAB VI
JAWAB PERTANYAAN
1.    Sebutkan logam-logam yang mempunyai daya oligodinamika
Hg, Ag, Cu, Au, dan Pb
2.    Mengapa logam sebelum digunakan harus dicuci dulu dengan HNO3
Tembaga tidak larut dalam asam yang bukan pengoksidasi tetapi tembaga teroksidasi oleh HNO3 sehingga tembaga larut dalam HNO3.
5Cu (s) + 12H+(aq) + 2NO3 ˉ (aq) → 5Cu2+(aq) + 2NO(g) + 6H2O

3.    Apa yang dimaksud dengan: antiseptik, disinfektan, dan apa perbedaannya
Antiseptik adalah agen kimia yang mencegah, memperlambat atau menghentikan pertumbuhan mikro-organisme (kuman) pada permukaan luar tubuh dan membantu mencegah infeksi. Beberapa antiseptik mampu membunuh kuman (bakteriosida), sedangkan yang lain hanya mencegah atau menghambat pertumbuhan mereka (bakteriostatik). Antiseptik berbeda dengan antibiotik, yang menghancurkan kuman di dalam tubuh, dan dari disinfektan, yang menghancurkan kuman pada benda mat. Antiseptik biasanya mengandung alkohol, chlorhexidine dan anilides.
Desinfektan adalah bahan kimia yang digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi atau pencemaran jasad renik seperti bakteri dan virus, jugauntuk membunuh atau menurunkan jumlah mikroorganisme atau kuman penyakit lainnya. Disinfektan digunakan untuk membunuh mikroorganisme pada benda mati.Desinfeksi adalah membunuh mikroorganisme penyebab penyakit dengan bahan kimia atau secara fisik, hal ini dapat mengurangi kemungkinan terjadiinfeksi dengan jalam membunuh mikroorganisme patogen. Desinfeksi dilakukanapabila sterilisasi sudah tidak mungkin dikerjakan, meliputi : penghancuran dan pemusnahan mikroorganisme patogen yang ada tanpa tindakan khusus untuk mencegah kembalinya mikroorganisme tersebut.Desinfektan mengandung glutaraldehhid, vantocil, ftalaldehida dan formaldehida
4.    Sebutkan beberapa bahan kimia yang termasuk desinfektan danantiseptik
Beberapa Disinfektan dan Antiseptik
a. Logam-logam Berat
Logam berat berfungsi sebagai antimikroba oleh karena dapat mempresipitasikan enzim - enzim atau protein esensial dalam sel. Logam-logam berat yang umum dipakai adalah Hg, Ag, As, Zr dan Cu. Daya antimikroba dari logam berat, dimana pada konsentrasi yang kecil saja dapat membunuh mikroba dinamakan daya oligodinamik. Tetapi garam dari logam berat ini mudah merusak kulit, merusak alat - alat yang terbuat dari logam, dan harganya mahal (Dwidjoseputro, 2005).
b. Fenol dan Senvawa-senyawa Sejenis
Fenol (asam karbol) untuk pertama kalinya dipergunakan Lister di dalam
ruang bedah sebagai germisida, untuk mencegah timbulnya infeksi pasca bedah. Pada konsentrasi yang rendah (2 - 4%), daya bunuhnya disebabkan karena fenol mempresipitasikan protein secara aktif, dan selain itu juga merusak membran sel dengan cara menurunkan tegangan permukaannya. Fenol merupakan standar pembanding untuk menentukan aktivitas atau khasiat suatu disinfektan (Dwidjoseputro, 2005).
Kresol (kreolin) lebih baik khasiatnya dari pada fenol. Lisol adalah disinfektan yang berupa campuran sabun dengan kresol, lisol lebih banyak digunakan daripada desinfektan lainnya (Dwidjoseputro, 2005).
Karbol adalah nama lain dari fenol. Seringkali orang mencampurkan baubauan yang sedap, sehingga disinfektan menjadi lebih menarik (Dwidjoseputro, 2005).
c. Alkohol
Alkohol merupakan zat yang paling efektif dan dapat diandalkan untuk sterilisasi dan disinfeksi. Alkohol mendenaturasikan protein dengan jalan dehidrasi, dan juga merupakan pelarut lemak. Oleh karena itu, membran sel sel akan rusak, dan enzim - enzim akan dinonaktifkan oleh alkohol. Etanol murni kurang daya bunuhnya terhadap mikroba Jika dicampur dengan air murni, efeknya menjadi lebih baik Alkohol 50 - 70% banyak dipergunakan sebagian disinfektan (Dwidjoseputro, 2005).
Ada 3 jenis alkohol yang dipergunakan sebagai disinfektan, yaitu metanol, etanol, dan isopropanol. Menurut ketentuan, semakin tinggi berat molekulnya, semakin meningkat pula daya disinfektannya. Oleh karena itu, diantara ketiga jenis alkohol tersebut isopropil alkohol adalah yang paling banyak digunakan. Yang banyak dipergunakan dalam praktek adaiah larutan alkohol 70 – 80% dalam air. Konsentrasi di atas 90% atau dibawah 50% biasanya kurang efektif kecuali untuk isopropil alkohol yang masih tetap efektif sampai konsentrasi 99%. Waktu yang diperlukan untuk membunuh sel-sel vegetatif cukup 10 menit, tetapi untuk spora tidak (Dwidjoseputro, 2005).
d . Aldehid
Cara bekerjanya aldehid ialah dengan cara membunuh sel mikroba dengan mendenaturasikan protein. Larutan formaldehid (CH2O) 20% dalam 65-70% alkohol merupakan cairan pensteril yang sangat baik apabila aiat-alat direndam selama 18 jam. Akan tetapi karena meninggalkan residu, maka alat-alat tersebut harus dibilas dulu sebelum dipakai. Senyawa lain aldehid, yakni glutaraldehid merupakan solusi seefektif formaldehid, terutama bila pH-nya 7,5 atau lebih. Stafilokokus dan Iain-lain sel vegetatif akan dimatikan dalam waktu 5 menit, Mycobacterium tuberculosis dan virus dalam waktu 10 menit, sedangkan untuk membunuh spora diperlukan 3-12 jam. Senyawa tersebut bersifat nontoksik dan tidak iritatif bagi manusia (Dwidjoseputro, 2005).
e. Yodium
Larutan yodium, baik dalam air maupun dalam alkohol bersifat sangat antiseptik dan telah lama dipakai sejak lama sebagai antiseptik kulit sebelum proses pembedahan (Dwidjoseputro, 2005).
f. Klor dan Senyawa Klor
Klorin bebas memiliki warna khas (hijau) dan bau yang tajam. Sudah lama klorin dikenal sebagai deodoran dan disinfektan yang sangat baik. Klorin dijadikan standar pengolahan air minum di seluruh lingkungan. Sayangnya kebanyakan senyawa klorin diinaktifkan bahan-bahan organik dan beberapa katalisator logam (Dwidjoseputro, 2005).
g. Peroksida
Peroksida hidrogen (H202) merupakan antiseptik yang efektif nontoksik. Molekulnya tidak stabit dan apabila dipanaskan akan teurai menjadi air dan oksigen (Dwidjoseputro, 2005).
h. Zat Warna
Beberapa zat warna dapat menghambat pertumbuhan kur (bakteriostatik),
misalnya derivat akridin dan zat warna rosan Akriflavin (campuran derivat akridin
dengan senyawa I mempunyai spektrum aktivitas yang luas, dan telah lama dipergunakan untuk mengobati infeksi traktus urinar Mekanisme kerjanya disebabkan karena akridin mampu bereduksi dengan ADN mikrobe (Dwidjoseputro, 2005).
i. Deterjen
Sabun biasa tidak banyak khasiatnya sebagai zat pembunuh bakteri (bakterisida), tetapi kalau dicampur dengan heksaklorofen daya bunuhnya menjadi besar sekali. Sejak lama obat pencuci yang mengandung ion (deterjen) banyak digunakan sebagai pengganti sabun. Deterjen tidak hanya bersifat bakteriostatik, melainkan juga merupakan bakterisida. Terutama bakteri yang bersifat Gram positif (Dwidjoseputro, 2005).
j. Suifonamida
Sejak tahun 1937 banyak digunakan persenyawaan-persenyawaan yang mengandung belerang sebagai penghambat pertumbuhan bakteri dan tidak memiliki sifat tidak merusak jaringan manusia. Mikroba yang peka terhadap suifonamida, antara lain Streptococcus yang mengganggu tenggorokan, Pneumococcus, Gonococcus, dan Meningococcus. Penggunaan obat ini bila tidak dengan aturan, akan menimbulkan gejala-gejala alergi dan berakibat kekebalan bagi mikrobe-mikrobe tertentu (Dwidjoseputro, 2005).

5.    Untuk apa saja desinfektan / antiseptik digunakan
Antiseptik
Zat kimia ini penggunaannya diterapkan pada kulit yang hidup atau jaringan tertentu untuk mencegah terjadinya infeksi dan umumnya tidak terlalu toksik, sehingga tidak berbahaya bagi kulit. Antiseptik biasanya digunakan saat seseorang mencuci tangan atau sebelum melakukan operasi. Antiseptik biasanya mengandung alkohol, chlorhexidine dan anilides.

Desinfektan
Penggunaan senyawa ini diterapkan pada permukaan, peralatan atau benda mati lainnya, sehingga kadarnya lebih toksik. Jika salah digunakan bisa menyebabkan pengerasan kulit, luka serta peradangan. Desinfektan sering digunakan untuk peralatan pembersih rumah tangga. Desinfektan mengandung glutaraldehhid, vantocil, ftalaldehida dan formaldehida.
BAB VII
KESIMPULAN
Dari hasil pratikum uji daya hambat mikroba dapat disimpulkan bahwa :
1.      Faktor – faktor yang mempengaruhi ukuran diameter zona hambatan adalah: kekeruhan susupensi bakteri, waktu pengeringan, temperatur inkubasi, waktu inkubasi tebalnya agar - agar, dan jarak antara disc obat.
2.      Antibiotik yang digunakan mampu menghambat pertumbuhan mikroba yang dapat dibuktikan dengan adanya luas wilayah jernih pada zona hambat, diantara antibiotik yang digunakan chlorampenichol, amoxillin, ampicillin yang memilikidaya hambat terbaik adalah chlorampenichol, ketiga antibiotikini bersifat menghambat tidak mematikan karena digunakan dalam konsentrasi rendah.
3.      Faktor – faktor yang mempengaruhi hasil ujian diantaranya adalah pH lingkungan, komponen – komponen medium, stabilitas obat, takaran inokolum, lamanya inkubasi, dan aktivitas metabolisme mikroorganisme.


DAFTAR PUSTAKA
http://www.slideshare.net/mivt/laporan-mikrobiologi-daya-kerja-antimikroba-7964891
http://itatrie.blogspot.com/2012/10/laporan-mikrobiologi-uji-daya-hambat.html
http://matekim.blogspot.com/2010/04/oligodinamik.html
http://bukucatatan-part1.blogspot.com/2010/11/beda-antiseptik-dan-desinfektan.html
http://berthathatha.blogspot.com/2012/05/antiseptik-dan-desinfektan.html
http://nmayang.blogspot.com/2012/05/antiseptik-dan-desinfektan.html
http://eprints.undip.ac.id/11892/1/Bab_1-5_skripsi_nurita-sukma.pdf

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar